Investigasi di Hutan Jati Blora Bersama Ahli Kayu

Kami diantar oleh Pak Parsito yang bekerja untuk Perhutani sebagai orang yang bekerja dan memantau semua aktivitas di hutan dan kami sudah berkomunikasi sebelum kami sampai di sana. Hari pertama di Blora kami pergi ke Hutan Jati dan kami belajar luasnya sekitar 600 Hektar atau 1.482 hektar dan dibagi dengan area yang memiliki jumlah grup tertentu karena setiap area akan memiliki jadwal yang berbeda untuk Girdling, Cutting, dan replanting. Untuk mengetahui daerah mana yang siap untuk Girdling, Cutting atau Replanting Perhutani memiliki App yang dapat menunjukkan kepada mereka daerah atau Peta (seperti GPS) dan tahun pohon ditanam (sehingga kita dapat mengetahui umur pohon) dengan memeriksa di aplikasi. Kami akan memiliki Pak Jadi sebagai Freelancer kami dan dia bekerja dengan Pak Parsito dan dapat menghubungkan kami dengan lebih banyak orang di Blora juga dapat memberi kami wawasan internal jika diperlukan.

 

 

Ada beberapa kegiatan di hutan yang kami pelajari dari Pak Parsito.

Penjarangan atau dalam bahasa Indonesia disebut Penjarangan, maka untuk memberi ruang bagi pohon Jati agar tumbuh besar Perhutani akan melakukan proses Penjarangan dimana mereka akan menebang pohon yang berumur sekitar 5 – 10 tahun. Hasil dari Penjarangan adalah Kayu Jati yang diameternya tidak terlalu besar dan biasanya akan dijual ke Lokal untuk dijadikan furniture dan tidak memenuhi syarat untuk diekspor.

Girdling atau dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya Teres, sebelum Perhutani menebang pohon akan ada proses Girdling dimana mereka akan memotong bagian bawah pohon untuk membuat pohon mati dan harus menunggu sekitar 2 tahun sampai pohon menjadi kering dan tidak ada daun yang tersisa di pohon sebelum mereka dapat menebangnya. Proses pemotongan harus menunggu 2 tahun setelah proses girdling karena dari penelitian yang mereka lakukan, dengan menunggu selama 2 tahun pohon akan kehilangan air hingga 90% dan ini adalah tujuan

 

 

Penebangan pohon akan dilanjutkan setelah menunggu 2 tahun setelah proses Girdling, kita bisa mengetahui kualitas kayu jati dengan melihat kulit kering dan juga serat dari kayu tersebut. Cara yang paling mudah untuk diperhatikan adalah jika ijuknya lurus ke atas tidak membuat garis gelombang, pohon tidak membungkuk, dan tidak ada kelainan dan penyakit yang menyebabkan perubahan warna atau lubang pada pohon. Dari penelusuran kami di Blora, usia pohon yang akan ditebang Perhutani tahun ini sekitar 70 -80 tahun dengan diameter sekitar 30 – 60cm.

Penanaman Kembali atau Reboisasi, setelah Perhutani menebang pohon akan memulai penanaman kembali setelah satu tahun proses tebang. Untuk peremajaan mereka akan menggunakan metode vegetatif (stek tanaman) dan ada metode standar silvikultur, seperti penyiraman, pemberian nutrisi dll mereka harus fokus pada penanaman kembali untuk membuat pohon jati yang baik.

Setelah semua pohon ditebang, maka Perhutani akan mengumpulkan dan menumpuknya di Tempat Penumpukan Kayu (TPK) yang pada dasarnya adalah tempat penyimpanan kayu sebelum pelanggan membelinya. Ada acara khusus dimana Perhutani akan melakukan Pelelangan bagi pembeli untuk dapat membeli pohon jati, biasanya jika Pohon Jati berdiameter lebih dari 170cm Perhutani akan melakukan Pelelangan karena langka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.